Orang-orang yang sukses di usia relatif muda dalam dunia bisnis, baik sebagai pengusaha maupun profesional, bermula dari kesuksesannya di dunia studi.
Jika ia belajar dengan baik, maka bisa dipastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan wawasannya akan berkembang baik, yang memudahkannya mencapai sukses dalam karier.
Ada orang yang mendebat pendapat saya di atas dengan mengatakan: "Banyak pengusaha sukses yang kaya raya hanya berpendidikan Sekolah Dasar namun mereka mempunyai karyawan para sarjana!" Bahkan ada yang lebih ekstrem mengatakan bahwa Thomas Alfa Edison---sang jenius penemu dan pemilik ribuan hak paten, dan pendiri General Electric Corporation--katanya gagal dalam sekolah sampai dikeluarkan oleh gurunya karena dianggap idiot!
Saya tidak mau berdebat kusir dengan orang yang berpikiran begitu. Pertama, saya ingin bertanya: "Ada berapa orangkah di muka bumi ini yang tidak bersekolah formal namun bisa menjadi inventor seperti Edison?"
Kedua, arti studi di sini adalah proses belajar untuk menjadi pintar berilmu, baik melalui pendidikan formal meupun nonformal dan bukan hanya sekadar mendapat ijazah.
Ketiga, sekolah tinggi, atau menjadi sarjana, tidaklah identik dengan menjadi berilmu. Sarjana yang tidak berilmu (karena sering kali nyontek, atau sarjana yang hanya menghafal dan bukan mengerti pelajaran pasti ada). Dan banyak pula ilmuwan yang tidak mempunyai gelar kesarjanaan.
Ideal (cita-cita) pengajaran saya ialah agar Anda mempunyai gelar akademis sekaligus kompetensi sebagai ilmuwan, untuk memudahkan sukses karier Anda.
Saya juga mengingatkan bahwa proses belajar formal di sekolah bukanlah jaminan untuk sukses karier Anda. Itu karena pertama, banyak ilmu atau kurikulum yang Anda pelajari di sekolah belum tentu relevan dan aplikatif untuk dunia bisnis. Kedua, orang yang sukses di sekolah belum tentu akan juga sukses di dunia bisnis. Demikian sebaliknya, orang yang tidak berprestasi di sekolah, belum tentu tidak bisa sukses di dunia bisnis. Namun demikian, saya berkeyakinan bahwa fungsi dan manfaat pendidikan formal adalah untuk membentuk baik pola berpikir yang komprehensif-integral maupun kemampuan memproses pengambilan keputusan secara sistematis-logis yang sulit dilakukan tanpa pengetahuan atau wawasan luas. Itulah yang membedakan antara orang yang bersekolah tinggi dengan yang tidak.
Jika ia belajar dengan baik, maka bisa dipastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan wawasannya akan berkembang baik, yang memudahkannya mencapai sukses dalam karier.
Ada orang yang mendebat pendapat saya di atas dengan mengatakan: "Banyak pengusaha sukses yang kaya raya hanya berpendidikan Sekolah Dasar namun mereka mempunyai karyawan para sarjana!" Bahkan ada yang lebih ekstrem mengatakan bahwa Thomas Alfa Edison---sang jenius penemu dan pemilik ribuan hak paten, dan pendiri General Electric Corporation--katanya gagal dalam sekolah sampai dikeluarkan oleh gurunya karena dianggap idiot!
Saya tidak mau berdebat kusir dengan orang yang berpikiran begitu. Pertama, saya ingin bertanya: "Ada berapa orangkah di muka bumi ini yang tidak bersekolah formal namun bisa menjadi inventor seperti Edison?"
Kedua, arti studi di sini adalah proses belajar untuk menjadi pintar berilmu, baik melalui pendidikan formal meupun nonformal dan bukan hanya sekadar mendapat ijazah.
Ketiga, sekolah tinggi, atau menjadi sarjana, tidaklah identik dengan menjadi berilmu. Sarjana yang tidak berilmu (karena sering kali nyontek, atau sarjana yang hanya menghafal dan bukan mengerti pelajaran pasti ada). Dan banyak pula ilmuwan yang tidak mempunyai gelar kesarjanaan.
Ideal (cita-cita) pengajaran saya ialah agar Anda mempunyai gelar akademis sekaligus kompetensi sebagai ilmuwan, untuk memudahkan sukses karier Anda.
Saya juga mengingatkan bahwa proses belajar formal di sekolah bukanlah jaminan untuk sukses karier Anda. Itu karena pertama, banyak ilmu atau kurikulum yang Anda pelajari di sekolah belum tentu relevan dan aplikatif untuk dunia bisnis. Kedua, orang yang sukses di sekolah belum tentu akan juga sukses di dunia bisnis. Demikian sebaliknya, orang yang tidak berprestasi di sekolah, belum tentu tidak bisa sukses di dunia bisnis. Namun demikian, saya berkeyakinan bahwa fungsi dan manfaat pendidikan formal adalah untuk membentuk baik pola berpikir yang komprehensif-integral maupun kemampuan memproses pengambilan keputusan secara sistematis-logis yang sulit dilakukan tanpa pengetahuan atau wawasan luas. Itulah yang membedakan antara orang yang bersekolah tinggi dengan yang tidak.
Karena itu saya sarankan beberapa metode yang dapat Anda
terapkan untuk mencapai sukses studi. Metode-metode ini bisa digunakan sebagai
pondasi sukses karier Anda kelak, yaitu:
1. Milikilah tujuan hidup secara tertulis yang fokus. Agar
sejak usia muda, Anda telah menetapkan arah pencapaian tujuan yang sesuai
dengan cita-cita Anda.
2. Memilih bidang yang disukai dan yang menunjang pencapaian
obsesi. Secara sadar, berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan diri,
putuskanlah bidang studi yang akan Anda tekuni.
Kesukaan terhadap bidang pelajaran yang Anda pilih sendiri
secara sadar merupakan sinergi dan motivator tambahan. Itu akan membuat Anda
lebih gemar, lebih tahan lama, tidak mudah bosan dalam belajar.
3. Gemar membaca. Anda sadar betul bahwa buku bacaan adalah
pintu gerbang menuju ilmu pengetahuan. Melalui membaca, Anda dapat menyimak
pemikiran dan pengalaman orang lain yang mungkin didapatnya dari riset puluhan
tahun hanya dalam beberapa hari secara ekonomis. Anda pelajari di sekolah,
yakni tentang konsep atau teori disiplin ilmu tertentu dari guru/dosen Anda,
semuanya berasal dari buku. Sesungguhnya Anda dapat belajar sendiri sekalipun
tanpa bersekolah secara formal. Filosofi dan perilaku sosial masyarakat, atau
konsep manajemen bisnis, semua itu terbentuk dari pemikiran para pakar yang
teorinya dapat Anda pelajari melalui buku. Karena itu saya anjurkan, jadikan
kebiasaan membaca menjadi kegemaran Anda, atau sebaliknya, jadikan kegemaran
membaca menjadi kebiasaan Anda, karena hal itu sangat bermanfaat bagi sukses
kehidupan Anda.
Biasanya, kegemaran membava itu ditularkan dari lingkungan
Anda. Misalnya, jika orangtua Anda gemar membaca, anak-anak mereka juga
cenderung gemar membaca, demikianlah sebaliknya. Karena itu saran saya kepada
Anda, jadikanlah kegemaran membaca sebagai kebiasaan seumur hidup dan
turun-menurun untuk mempertahankan kualitas dan kapasitas pemikiran dan hidup
Anda dan keluarga.
4. Mendahului pelajaran. Jika Anda gemar membaca, langkah
praktis untuk menjadi murid teladan adalah dengan cara terlebih dulu membaca
pelajaran yang sedang diajarkan di kelas Anda. Andaikan guru Anda baru
mengajarkan buku “A” pada halaman 47, Anda harus sudah membaca buku itu sampai
selesai. Buatlah catatan tentang istilah atau hal apa saja yang belum Anda
mengerti tentang pelajaran itu. Dan tanyakanlah kelak kepada guru Anda.
5. Menyimak dan gemar bertanya. Karena Anda telah membaca
dan mempelajari topik bahasan terlebih dahulu, Anda akan mempunyai wawasan yang
lebih unggul dibandingkan rekan-rekan kelas Anda yang baru saja mengetahui
tentang pelajaran yang sedang diajarkan. Tugas Anda sekarang adalah menyimak
dengan seksama tentang apa yang tengah guru Anda ajarkan, dan memastikan bahwa
apa yang Anda pelajari sendiri dari buku adalah sama seperti apa yang sedang
dijabarkan oleh guru. Jika ada hal yang kurang Anda pahami, tanyakanlah segera.
Dan jika guru melontarkan pertanyaan kepada forum, jawablah segera dengan
benar. Dengan demikian Anda akan dikenal oleh para guru sebagai murid yang
pro-aktif, cerdas, pintar, dan berprestasi.
Saya beritahukan bahwa teknik ini masih merupakan kiat
langka! Jika Anda menerapkannya, saya jamin Anda akan menjadi pelajar terbaik!
Biasanya, bagi pelajar teladan sekalipun, mereka hanya tekun
menyimak pelajaran hari ini, dan bukan mendahului pelajaran. Dengan teknik
begitu saja mereka sudah bisa menjadi pelajar teladan karena mayoritas pelajar
tidak mahfum akan tujuan mereka bersekolah dan tidak tahu teknik belajar yang
efektif. Mereka melewati proses belajar dengan berat hati, dan perasaan
tersiksa sehingga tidak mengherankan apabila kualitas pelajar/mahasiswa kita
marginal!
6. Mengulangi pelajaran. Jika Anda ingin memastikan bahwa
apa yang Anda pelajari di sekolah bisa menjadi pengertian seumur hidup bagi
Anda, bacalah ulang pelajaran yang baru lalu sepulangnya dari sekolah. Dengan
demikian Anda bukan hanya menghafal pelajaran tersebut---karena menghafal
cenderung mudah lupa---melainkan menjadikannya pengertian dan pengetahuan. Itu
sulit terlupakan sampai kelak. Kesalahan dan ‘penyakit’ umum kebanyakan pelajar
adalah belajar jika akan ada ujian. Mereka berjuang keras untuk menghafalkan
semua pelajaran dalam semalam, agar besok ketika ujian mereka bisa menjawabnya.
Menurut saya itu adalah perilaku yang buruk dan bodoh. Anda akan segera lupa
apa yang Anda hafalkan itu selepas ujian, dan kelak, sekalipun Anda lulus, Anda
tidak mengetahui apa pun!
Cara belajar yang baik tidak bisa di ‘karbit’ seperti itu.
Jika Anda ingin menjadikannya sebagai memori (ingatan) yang kelak hendak Anda
akses kembali bila diperlukan, Anda harus menanamkannya secara benar, yakni
dengan mengulang-ulangi (repeatation)
data itu secara bertahap ke dalam pikiran Anda secara sadar dan tidak terges-gesa. Dengan demikian data itu akan
menjadai pengertian bagi Anda tanpa Anda harus susah payah menghafalnya.
Sebagai contoh: Jika Anda ingin fasih berbahasa inggris,
maka cara yang benar adalah dengan memahami Grammar (tata bahasa) dan
Vocabulary (perbendaharaan kata) sebanyak mungkin, kemudian mempraktekkannya
sesering mungkin.
Nah, hal itu baru bisa terjadi, jika Anda melalui proses
belajar yang benar, setahap demi setahap, misalnya dengan membaca
berulang-ulang, ditambah dengan mengulangi akumulasi perbendaharaan kata
sebelumnya; tanpa terasa, perbendaharaan kata Anda sudah banyak, sehingga Anda
dapat mendengar maupun berbicara dalam bahasa Inggris secara fasih.
Namun jika Anda berupaya manghafal 100 perbendaharaan kata
dalam sehari; biar sekeras apa pun Anda belajar, hal itu (mungkin) hanya
melekat sejenak dalam sehari, dan esoknya telah terlupa kembali.
7. Pergaulan yang kondusif. Seleksilah teman pergaulan Anda
dengan seksama. Jangan bergaul dengan orang yang tidak punya tujuan hidup yang
jelas, karena cenderung malas, hura-hura, dan pembolos. Lebih baik Anda tidak
mempunyai teman daripada mempunyai teman yang buruk, malas, bodoh, dan apalagi
jahat. Jika ada teman Anda yang membujuk, atau ‘memanas-manasi’ agar Anda turut
melakukan perbuatan tercela (dan atau merugikan), misalnya berkata, “Ayo
cobalah merokok dan minum alkohol supaya kamu nampak dewasa, elit, kosmo, dan
tidak kampungan!” Janganlah Anda turuti! Bahkan sekalipun mereka mengata-ngatai
Anda dengan ucapan pedas, seperti “Masak merokok dan minum alkohol saja kamu
tidak berani? Apakah kamu banci?!”
Jangan Anda gubris olok-olok mereka, dan segera menjauhlah
dari teman-teman seperti itu, mereka berbahaya!
Pertama, jika Adna menuruti tantangan mereka untuk merokok
dan minum alkohol, maka tahap selanjutnya mereka akan menantang Anda lagi untuk
mengganja, lalu minum pil koplo. Kemudian mungkin mereka akan menjerumuskan
Anda menjadi pecandu heroin. Dan jika Anda tidak punya uang untuk membiayai
rasa ketagihan Anda, maka Anda akan menjadi kriminal, apakah mencuri, merampok,
atau menjadi pengedar obat terlarang!
Kedua, reputasi, prestasi, dan masa depan Anda akan hancur
berantakan! Pada waktu itu, menyesal pun sudah percuma, karena ibaratnya, nasi
sudah jadi bubur!
Ketiga, biasanya teman-teman yang membujuk untuk melakukan
perilaku buruk seperti itu adalah
orang-orang yang berperilaku negatif, rendah diri, bodoh, malas,
degil,dan jahat, jauhilah mereka! Mereka iri hati terhadap prestasi dan
reputasi Anda. Dan karen mereka tidak bisa mendapatkannya, mereka pun tidak
ingin Anda memilikinya, dan berupaya menghancurkan masa depan Anda, sama
seperti masa depan mereka yang telah hancur! Saya tegaskan hindari pergaulan
yang buruk!
8. Pola hidup yang sehat. Adalah kemampuan mengelola waktu
dan aktivitas, secara seimbang.
Hidup itu bukan monoton membosankan, melainkan harus Anda
atur agar menjadi bervariasi secara harmonis. Ada waktu untuk belajar, ada
waktu untuk makan, ada waktu untuk berolahraga, ada waktu untuk rekreasi, dan
ada waktu untuk tidur. Dan semuanya harus dilakukan secara sistematis, dan
proporsional.
Sekalipun saya mengajarkan agar Anda gemar belajar, namun
Anda pun harus mempunyai waktu untuk santai.
Ingat, segala hal yang berlebihan adalah tidak sehat, bukan
demikian?
Dengan 8 langkah strategis di atas, saya jamin Anda akan menjadi pelajar/mahasiswa teladan,
dan pelajar/mahasiswa terbaik, terus-menerus.
Dan dengan bekal prestasi belajar Anda tersebut, pintu
gerbang dunia karier terbuka lebar-lebar bagi Anda. Bahkan dalam banyak kasus,
Anda telah “diijon” (di-booking) oleh
perusahaan besar ketika Anda masih dalam status mahasiswa.
Sebagai anjuran penutup. Jangan ikuti banyak
pelajar/mahasiswa yang menghabiskan waktunya sehari-hari di pusat belanja (mall
atau plaza) untuk mangkal dan merumpi.
Perilaku seperti itu hanya menyia-nyiakan waktu, kesempatan,
dan masa depan Anda, karena Anda tidak punya waktu untuk belajar. Belum lagi
resiko Anda melakukan hal yang tidak senonoh, seperti misalnya hamil di usia
remaja, terlibat penyalahgunaan obat terlarang, dan/atau prostitusi!
Sudah menjadi rahasia umum, terutama di kota-kota besar, dan
kebanyakan orang yang indekost, bahwa banyak pelajar putri atau mahasiswi
menyalahgunakan statusnya menjadi ‘perek’ (perempuan eksperimen) dan atau
menjadi ‘call-girl’.
Mereka berkeliaran di pusat perbelanjaan dan atau mangkal di
kafe-kafe mewah untuk mencari mangsanya. Mereka bisa ‘memasarkan’ dirinya
sendiri dengan bekal radio panggil atau telepon genggam, dan atau
diorganisasikan oleh teman-teman kelasnya sendiri!
Sekalipun itu dilakukan dengan alasan untuk memenuhi
kebutuhan material, seperti untuk membiayai sekolah, atau membiayai anggota
keluarganya, namun lebih banyak yang hanya untuk memenuhi gaya hidup mewah dan
hura-hura. Atau mencari uang karena kecanduan narkotika; bahkan ada yang ‘just for fun’, tanpa alasan lainnya.
Edan?! Hindarilah mereka.
Source : Dari sebuah buku
Source : Dari sebuah buku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar