Buku bersampul seekor kutu dengan punggung bertutul merah itu memamerkan diri dengan sebaris judul:
Mencegah & Membasmi Rayap secara Ramah Lingkungan & Kimia. Buku itu ditulis Kurnia Wiji P dan Sulaeman Yusuf.
Dari cara kedua penulis itu memilih kata “mencegah” dan “membasmi”,
nyaris dipastikan bahwa kutu adalah musuh bersama siapa pun—juga para
kutubuku. Gerombolan itu harus dilawan hingga ke akar-akarnya.
Rayap atau kutu ini memang sejenis hewan pengerat yang lembut, tapi
hidup berkoloni/bergerombol. Dalam sesama komunitas hewan kecil, ia
adalah koloni paling lemah. Saya pernah menyaksikan sendiri hukum
ekosistem itu saat satu kardus bahan kronik saya menjadi bancakan
gerombolan kutu. Ketika berhadapan dengan semut muka-muka, misalnya, ia
akan mati langkah dan menjadi bulan-bulanan pemangsaan. Maka muncul
istilah “mati kutu” untuk mendefiniskan orang yang tak berdaya seketika
saat berhadapan dengan sesuatu yang mustahil dikalahkannya.
Meski kecil dan kelihatan lemah, rayap atau kutu ini memiliki
kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan apa pun. Bangunan
bertingkat pun akan lumer oleh mereka. Lantaran “revolusi senyap”,
terukur, dan menghancurkan ini, gerakan antikutu dicanangkan di
mana-mana. Buku-buku tentang antirayap diproduksi. Obat-obat pembasmi,
mulai yang paling beracun hingga ramah lingkungan diiklankan di
halaman-halaman suratkabar hingga website.
Cara kerja “revolusi senyap” para kutu ini seperti kerja klandestin.
Mereka mula-mula menentukan target perpustakaan mana yang hendak mereka
musnahkan. Biasanya, perpustakaan dengan pengamanan yang sangat lemah:
buku-buku yang jarang ditengok dan diletakkan sembarangan saja di tempat
yang lembab.
Setelah titik target dirancang oleh pasukan kutu pendahulu,
pengepungan massif kemudian dilakukan. Hari demi hari informasi
disebarkan. Kian hari koloni yang terbentuk kian besar. Pasukan kutu
inilah yang mamamah dengan rakus seluruh buku tanpa sisa.
Cara kerja pemamahan total inilah yang melahirkan sebutan untuk
pembaca yang rakus: “kutubuku”. Tapi kutu bukan pembaca yang baik. Ia
adalah pemusnah tiada tanding. Jika api melakukan pemusnahan dengan
gagah dengan mempertontonkan kesombongan di hadapan massa, maka kutu
bekerja dalam kesunyatan absolut di tempat-tempat lembab, kamar kotor,
dan di gorong-gorong yang lucek.
Jika api memaklumkan diri dengan “revolusi terbuka”, maka kutu
menisbatkan diri dalam lingkar “revolusi senyap” dengan rantai intelijen
yang rapi. Tapi akibat yang ditimbulkan dua revolusi dari dua musuh
abadi buku ini tetap saja sama: kemusnahan.
Untuk mengantisipasi, melawan, dan menghancurkan gerakan makar
gerombolan kutu itu, mari kita konsultasikan kepada pakar interior
nasional: Imelda Akmal. Ia pernah menulis buku Seri Rumah Ide – Home
Library yang diterbitkan Gramedia. Tipis. Cuma 64 halaman. Setelah
menjelaskan panjang lebar bagaimana agar buku-buku yang dikumpulkan
dengan susah payah menyatu dengan semesta rumah dalam keteraturan,
tibalah saatnya Imelda pada pembahasan soal kutu.
Kutu harus dilawan dengan interior yang mempertimbangkan lokasi
perpustakaan. Jangan di tempat terbuka di mana matahari bersinar
langsung. Tapi hindari juga ruang yang lembab. Yang diperlukan adalah
ruangan yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. Kalau perlu pasang
AC untuk menjaga suhu udara stabil.
Jika pilihan ruangan sudah ditentukan, sampailah pada perawatan buku.
Setiap sesuatu yang tak dirawat pastilah akan rongsok. Kutu itu makhluk
lemah. Dan hanya orang-orang yang abai dan meremehkan kekuatan kaum
lemah saja yang akan tumbang dan berada dalam penyesalan abadi melihat
istana buku raksasanya hancur berkeping-keping.
Perawatan itu mestilah rutin. Dengan perawatan yang konstan, mungkin
bukan hanya kutu yang tak akan mendekat. Tapi debu, yang menjadi salah
satu musuh buku, juga bisa dijauhkan. Sebab ada pepatah kutukan
kutubuku: Dari debu datanglah kutu. Para intelijen kutu tahu betul buku
berdebu adalah sinyal dari buku yang diabaikan oleh tuannya. Maka jangan
beri masuk debu untuk menghalau barisan revolusioner senyap itu masuk
ke istana kutubuku.
Untuk menghalau debu, saran Imelda, cukup pakai kemoceng, lap kering
dan vacuum cleaner. Untuk membuat benteng pertahanan dari serangan balik
kutu, rak buku mesti dikondisikan kering dan rutin menyemprotnya dengan
cairan antikutu yang dijual di toko-toko bangunan. Jangan pernah lupa
tabur selalu kemasan antiserangga.
Sederhana sekali, bukan?
Pada dasarnya hukum besi sosial itu tetap berlaku. Sekali kalian
bersikap tak adil dan mengabaikan buku, gerombolan kutu akan bergerak
memusnahkan istana buku Anda. Maka pilihannya sekarang hanya dua:
melawan atau musnah.
source :
terimakasih^^