Pages

Search engine

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Review buku Sekolah yang Menyenangkan Metode Kreatif Mengajar dan Pengembangan Karakter Siswa


Kali ini saya mau membahas buku berjudul "Sekolah yang Menyenangkan" karya Anna Farida, dkk.
Buku ini menjelaskan tentang bagaimana metode kreatif yang bisa dilakukan guru saat mengajar, penjelasan yang ditulis mudah dipahami pembaca karena memang buku tersebut berdasar pada pengalaman nyata dari para guru, kepala sekolah, dan wali murid di SD Gemilang Mutafannin. Dijelaskan bahwa ada berbagai kegiatan menarik yang dapat dilakukan siswa, bukan hanya kegiatan monoton belajar di dalam kelas. Ada satu kalimat yang saya sangat ingat:
"Jadilah dirimu, nak. Dengan nama-Nya."
MasyaaAllah, kalimat ini sungguh bermakna, dimana setiap anak bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi hebat dan berhasil dengan bakat yang dimilikinya masing-masing. Setelah mereka mengenal kehebatan dan keunikannya masing-masing tentu mereka akan bersyukur dan kagum kepada Sang Maha Pencipta.
Buku ini bisa menjadi referensi yang bagus buat teman-teman sekalian yang ingin membawa warna baru dalam kegiatan belajar mengajarnya, khususnya bagi guru sekolah dasar.

Jumat, 04 Mei 2012

“Revolusi Senyap” Gerombolan Kutu

Buku bersampul seekor kutu dengan punggung bertutul merah itu memamerkan diri dengan sebaris judul: Mencegah & Membasmi Rayap secara Ramah Lingkungan & Kimia. Buku itu ditulis Kurnia Wiji P dan Sulaeman Yusuf.
Dari cara kedua penulis itu memilih kata “mencegah” dan “membasmi”, nyaris dipastikan bahwa kutu adalah musuh bersama siapa pun—juga para kutubuku. Gerombolan itu harus dilawan hingga ke akar-akarnya.
Rayap atau kutu ini memang sejenis hewan pengerat yang lembut, tapi hidup berkoloni/bergerombol. Dalam sesama komunitas hewan kecil, ia adalah koloni paling lemah. Saya pernah menyaksikan sendiri hukum ekosistem itu saat satu kardus bahan kronik saya menjadi bancakan gerombolan kutu. Ketika berhadapan dengan semut muka-muka, misalnya, ia akan mati langkah dan menjadi bulan-bulanan pemangsaan. Maka muncul istilah “mati kutu” untuk mendefiniskan orang yang tak berdaya seketika saat berhadapan dengan sesuatu yang mustahil dikalahkannya.
Meski kecil dan kelihatan lemah, rayap atau kutu ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan apa pun. Bangunan bertingkat pun akan lumer oleh mereka. Lantaran “revolusi senyap”, terukur, dan menghancurkan ini, gerakan antikutu dicanangkan di mana-mana. Buku-buku tentang antirayap diproduksi. Obat-obat pembasmi, mulai yang paling beracun hingga ramah lingkungan diiklankan di halaman-halaman suratkabar hingga website.
Cara kerja “revolusi senyap” para kutu ini seperti kerja klandestin. Mereka mula-mula menentukan target perpustakaan mana yang hendak mereka musnahkan. Biasanya, perpustakaan dengan pengamanan yang sangat lemah: buku-buku yang jarang ditengok dan diletakkan sembarangan saja di tempat yang lembab.
Setelah titik target dirancang oleh pasukan kutu pendahulu, pengepungan massif kemudian dilakukan. Hari demi hari informasi disebarkan. Kian hari koloni yang terbentuk kian besar. Pasukan kutu inilah yang mamamah dengan rakus seluruh buku tanpa sisa.
Cara kerja pemamahan total inilah yang melahirkan sebutan untuk pembaca yang rakus: “kutubuku”. Tapi kutu bukan pembaca yang baik. Ia adalah pemusnah tiada tanding. Jika api melakukan pemusnahan dengan gagah dengan mempertontonkan kesombongan di hadapan massa, maka kutu bekerja dalam kesunyatan absolut di tempat-tempat lembab, kamar kotor, dan di gorong-gorong yang lucek.
Jika api memaklumkan diri dengan “revolusi terbuka”, maka kutu menisbatkan diri dalam lingkar “revolusi senyap” dengan rantai intelijen yang rapi. Tapi akibat yang ditimbulkan dua revolusi dari dua musuh abadi buku ini tetap saja sama: kemusnahan.
Untuk mengantisipasi, melawan, dan menghancurkan gerakan makar gerombolan kutu itu, mari kita konsultasikan kepada pakar interior nasional: Imelda Akmal. Ia pernah menulis buku Seri Rumah Ide – Home Library yang diterbitkan Gramedia. Tipis. Cuma 64 halaman. Setelah menjelaskan panjang lebar bagaimana agar buku-buku yang dikumpulkan dengan susah payah menyatu dengan semesta rumah dalam keteraturan, tibalah saatnya Imelda pada pembahasan soal kutu.
Kutu harus dilawan dengan interior yang mempertimbangkan lokasi perpustakaan. Jangan di tempat terbuka di mana matahari bersinar langsung. Tapi hindari juga ruang yang lembab. Yang diperlukan adalah ruangan yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. Kalau perlu pasang AC untuk menjaga suhu udara stabil.
Jika pilihan ruangan sudah ditentukan, sampailah pada perawatan buku. Setiap sesuatu yang tak dirawat pastilah akan rongsok. Kutu itu makhluk lemah. Dan hanya orang-orang yang abai dan meremehkan kekuatan kaum lemah saja yang akan tumbang dan berada dalam penyesalan abadi melihat istana buku raksasanya hancur berkeping-keping.
Perawatan itu mestilah rutin. Dengan perawatan yang konstan, mungkin bukan hanya kutu yang tak akan mendekat. Tapi debu, yang menjadi salah satu musuh buku, juga bisa dijauhkan. Sebab ada pepatah kutukan kutubuku: Dari debu datanglah kutu. Para intelijen kutu tahu betul buku berdebu adalah sinyal dari buku yang diabaikan oleh tuannya. Maka jangan beri masuk debu untuk menghalau barisan revolusioner senyap itu masuk ke istana kutubuku.
Untuk menghalau debu, saran Imelda, cukup pakai kemoceng, lap kering dan vacuum cleaner. Untuk membuat benteng pertahanan dari serangan balik kutu, rak buku mesti dikondisikan kering dan rutin menyemprotnya dengan cairan antikutu yang dijual di toko-toko bangunan. Jangan pernah lupa tabur selalu kemasan antiserangga.
Sederhana sekali, bukan?
Pada dasarnya hukum besi sosial itu tetap berlaku. Sekali kalian bersikap tak adil dan mengabaikan buku, gerombolan kutu akan bergerak memusnahkan istana buku Anda. Maka pilihannya sekarang hanya dua: melawan atau musnah.

source  : terimakasih^^

Kamis, 26 April 2012

Negeri Bahagia

Dalam novel yang diangkat dari kisah nyata berjudul City of Joy karya Dominique Lapierre, diceritakan ada sebuah tempat di mana tidak ada sebatang pohon, atau setangkai bunga pun yang tumbuh di sana. Tidak ada kupu-kupu atau burung, kecuali burung gagak dan pemakan bangkai. Udaranya pekat dipenuhi karbon dioksida dan sulfur, lorong-lorongnya berubah menjadi danau lumpur di musim hujan. Harapan hidup penghuninya mencapai tingkat terendah di dunia karena penyakit seperti lepra, TBC, disentri, dan malnutrisi berkubang di sana. Mayat kadang-kadang dibuang ke sungai karena tak ada kerabat yang mampu membayar untuk upacara kremasi atau penguburan yang layak.

Akan tetapi, tempat yang berada di salah satu pemukiman kumuh di Calcutta, India ini dinamai Anand Nagar atau Negeri Bahagia. Penduduk di sana penuh dengan keramahan, ketulusan, cinta kasih, pengorbanan, dan keberanian. Bagi mereka, situasi seburuk apa pun tak pernah menjadi penghalang untuk berbagi dan bahagia.

Cerita dalam novel yang di Indonesia diterbitkan oleh penerbit Bentang ini seakan menasehati dan membuat kita melakukan introspeksi diri, masihkah kita sering mengeluh dan merasa menderita dengan kehidupan yang jauh lebih baik dari mereka? Bukankah sudah sewajarnya kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki saat ini? Seperti yang kita pahami bersama, bersyukur tidak berdampak secara langsung pada orang lain, melainkan sangat berpengaruh besar pada kebahagiaan yang bersangkutan.

Dalam dunia kerja, keramahan, ketulusan, cinta kasih, pengorbanan, dan keberanian adalah faktor penentu seseorang akan sukses atau tidaknya dalam karir. Sifat-sifat positif tersebut dalam bahasa yang lebih intelektual disebut sebagai kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang disinyalir sebagai penyumbang terbesar dalam kesuksesan seseorang.

Sayangnya masih banyak orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya dan tidak henti-hentinya mengeluh. Mereka menyalahkan pimpinan, rekan kerja, kebijakan perusahaan, kebijakan pemerintah, hingga menyalahkan presiden. Mereka menyimpulkan bahwa penyebab gajinya yang kecil dan penyebab kemandegan karirnya adalah bukan dirinya tapi orang lain. Itu berarti secara tidak langsung mereka menyerahkan nasibnya pada orang lain sambil menunggu mereka berbaik hati menaikkan gajinya dan mengangkatnya menjadi manager atau bahkan direktur. Mereka seperti orang-orang yang mengeluh dan mencaci Jakarta karena macet, banjir, polusi dan hal-hal lainnya. Namun, mereka masih tetap tinggal di Jakarta dan tidak terlintas di benaknya sedikit pun untuk pindah ke pegunungan yang jalannya lancar, tidak banjir, dan udaranya masih bersih.

Mari kita bangun negeri bahagia di dalam hati kita dengan ketulusan, cinta kasih, pengorbanan, dan keberanian. Mari kita syukuri pekerjaan yang kita miliki sekarang dengan mencintainya bukan membencinya. Bukankah jika kita membenci pekerjaan, maka pekerjaan pun akan membenci kita dan jika kita mencintai pekerjaan, maka pekerjaan pun akan mencintai kita? Ini adalah hukum sebab akibat atau ketetapan Tuhan yang berlaku pasti dan layak untuk kita renungkan. Semoga saya, Anda, kita semua tergolong orang-orang yang pandai bersyukur dan senang berbagi kebahagiaan pada sesama. Nasihat guru kami tentang kebahagiaan, “Jika kita ingin bahagia, bahagiakanlah sebanyak mungkin orang”.

sumber : terimakasih^^

Kamis, 26 Januari 2012

Kisah tentang Asal Usul Aurora

"Kau tahu asal usul aurora sayang? Tidak? Baiklah, aku akan ceritakan. Cerita yang indah... 

(Copy this picture in your computer, then see, and read this story)




  
Diambil dari Novel "Moga Bunda Disayang Allah" karya Tere-liye

Novel "Moga Bunda Disayang Allah" karya Tere-liye

Hellen Keller, seorang pembicara dan penulis internasional yang memiliki keterbatasan tidak hanya buta namun juga tuli sekaligus bisu, adalah sosok nyata yang mengajarkan pada dunia bahwa manusia dilahirkan dengan wujudnya yang paling sempurna. Sehingga tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk menyalahkan keterbatasan yang mereka sandang sebagai akibat kegagalan hidup. Tidak hanya itu, dia telah menyegarkan jiwa manusia dengan inspirasi yang mengagumkan tentang kemampuan manusia yang tidak terbatas. Novel Moga Bunda Disayang Allah adalah salah satu kisah yang tercipta karena luberan semangat dan inspirasi dari sosok Hellen Keller yang tidak pernah menyerah akan keterbatasannya.

Kisah dalam novel ini meski terinspirasi dan sedikit mengadopsi kisah Hellen Keller, namun penulis tidak semerta-merta menjadikan tema gadis buta sebagai sentral dalam cerita. Dalam novel terbentuk tiga karakter yang unik. Bunda yang memiliki putri cacat; Karang, sang guru penyayang anak-anak dan pernah dituduh mencelakakan nyawa 18 anak panti asuhan; serta Melati gadis manis enam tahun yang tengah belajar mengenal dunia, bertemu dalam jalinan kisah yang mengharukan. Dengan pengembangan imajinasi yang luas, kisah “Hellen Keller” versi Indonesia ini tidak hanya berkutat bagaimana membuat sosok Melati sembuh dari penyakitnya dan bisa berbaur ke masyarakat secara mandiri. Namun juga ada sisi di mana Melati menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi orang tua dan juga Pak Guru Karang. Pelajaran tersebut adalah tentang ketidak-terbatasan manusia sebagai makhluk Tuhan.


Bunda HK merasa memiliki beban yang cukup berat karena takdir yang menimpa putri semata wayangnya. Rasa kasih Bunda yang tak terbatas kepada anak gadisnya terbukti sebagai alat ampuh yang dimiliki kaum hawa untuk menembus— seperti apa yang disebut manusia awam—dinding baja. Meski hanya bersenjatakan tangis dan doa, Bunda tak hentinya mengharap kesembuhan putrinya agar bisa mengucap sebuah kata, “Bunda”. Bunda berusaha menghapus kata “tidak terkabul” dalam kamus Tuhan dengan mengirimkan pinta tulus tak berputus seorang Bunda bagi kesembuhan anaknya.


Karang, adalah sosok pemuda yang dibatasi masa lalu dan menganggap hidupnya tak lebih berarti daripada sebagai seorang pemabuk. Jadwal padat sehari-harinya hanyalah berangkat ke bar di malam-malam buta, pulang mabuk di saat orang beranjak terbangun, dan menenggelamkan diri di siang hari pada mimpi-mimpi kelam masa lalunya. Dia terbelenggu akan rasa bersalah sehingga menjadikannya orang yang sinis dan skeptis terhadap kehidupan. Bahkan, kehadiran Tuhan-pun dia pertanyakan. Hingga selanjutnya langit menjawab doa Bunda dan menuntun Bunda untuk mempercayakan anaknya kepada seorang pemabuk.


Melati menurut aturan umum disebut sebagai seorang anak yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan, pendengaran, dan ucapan. Namun Tuhan berkata lain. Melati memiliki kelebihan yang luar biasa dibanding anak-anak pada umumnya. Rasa ingin tahunya besar akan keadaan sekelilingnya sehingga dia mudah merasa marah karena ketidaktahuan yang dimilikinya kecuali kegelapan dan kekosongan. Perasaan yang peka dan otak cerdas yang diberikan Tuhan untuknya mampu membuatnya mengenal benda-benda disekelilingnya dan mempelajari ucapan Pak Guru Karang dalam waktu satu minggu sejak pertama kali dia mampu mengakses komunikasi langsung dengan orang-orang di sekitarnya melalui telapak tangan. Sehingga dia memiliki peluang seperti anak-anak seusianya dalam memimpikan cita-cita yang tak-terbatas untuk masa depannya.


Pengarang mengusung sebuah penceritaan yang sangat bagus dalam novelnya, lancar dalam pendeskripsian dan cantik dalam mengolah ketegangan. Mengingatkan pada film-film Hollywood yang selalu menarik ulur roman histeria di antara buncah-buncah kebahagiaan. Sekaligus mengingatkan pada tipikal Rowling yang suka mencampurkan beberapa karakter yang terkoneksi satu sama lain. Uniknya, Pengarang menciptakan karakter Melati, Bunda dan Karang dalam sosok masing-masing yang tidak bisa dibedakan mana yang lebih pantas disebut sebagai tokoh utama. Di sini benar-benar terasa adanya tiga tokoh utama yang memiliki kedudukan sama sebagai agen penderita, agen perubahan, dan agen pencerahan. Menyadarkan kita bahwa manusia dalam kedudukannya sendiri-sendiri sebenarnya sedang melakoni peran penting dalam kehidupan nyata.

Sangat disayang kalau cerita ini ditulis dalam gaya bahasa populer yang kurang baku. Penggunaan berulang-ulang kosakata yang tidak baku, kalimat tambahan yang tidak perlu kadang kala mengganggu kenyamanan dalam membaca. Seperti penggunaan kata “ibu-ibu gemuk” yang artinya menunjuk pada seorang ibu yang bertubuh subur dan kata “kanak-kanak” untuk penunjukan kata benda seorang anak.

Yang terasa kurang tepat lagi adalah pilihan penulis dalam penempatan setting dan kegiatan pendukung dalam novel. Dalam novel semua tokoh digambarkan sebagai orang-orang muslim dengan segala aktivitas dan atribut mereka, namun pada ending cerita penulis menciptakan suasana pesta kembang api yang dirayakan pada tahun baru Imlek oleh masyarakat termasuk para tokoh novel. Alih-alih menyebutkan secara jelas kota atau negara terjadinya peristiwa dalam novel, sejak awal penulis hanya menyebutkan tempat-tempat semu: “rumah di atas bukit”, “daerah jauh dari ibukota”, “Tuan dan Bunda HK”. Jadi tidak terlihat jelas keberagaman budaya atau mayoritas budaya penduduk yang ada di daerah tempat tinggal tokoh Melati, sehingga kurang ada alasan tepat jika penulis dengan tiba-tiba memasukkan salah satu kegiatan tahunan keluarga Melati adalah merayakan tahun baru China
.

Untuk men-download silahkan klik di sini -> terimakasih^^ 

Sumber : termiakasih^^

Kamis, 23 Desember 2010

Voli Gam(i)e Lebih Banyak, Lebih Baik? - Yokie Adityo

Baru selesai baca buku ini ni

Lumayanlah.. bukunya bagus juga,
sinopsisnya kaya begini nih...
 
"Sebagai pewaris imperium perusahaan kue pepe milik ayahnya, Fakir Misbah seperti ditakdirkan untuk bergelimang harta dan wanita, minus isi kepala. Dengan empat istri setia yang selalu mendampinginya, Fakir seharusnya merasa bahagia. Dengan karakter yang sangat berbeda, mereka justru saling melengkapi. Namun, jika diperhatikan sungguh-sungguh, semua istrinya mmiliki satu persamaan. Sungguh, sebuah kebetulan, begitu pikir Fakir.
Andai saja Fakir Misbah tahu lebih awal, ada sebuah ide gila dibalik pertemuannya dengan keempat wanita itu. Penjual rempeyek serbatahu dengan kutil di hidungnya, atau pemuda ramah yang menghilang begitu saja di balik tikungan dengan meninggalkan kostum Superman, seakan melengkapi keanehan jalan hidup Fakir."

Pas ngeliat cover dan judul bukunya, dikirain ini buku komedi. Ternyata gak juga, karena cuma ada beberapa aja kejadian yang lucunya.
Awal baca buku ini di kirain bagus, eh ternyata beneran bagus juga. Keliatan bagusnya itu pas di halaman 157-158, di situ diceritakann tentang mantan agen ECO (organisasi pencipta konspirasi) , yang membocorkan rahasianya tentang konspirasi (teori persekongkolan) yang dilakukan organisasi ECO terhadap Fakir. Konspirasi-Poligami yang terjadi dikehidupannya. Fakir mengetahui semua keanehan dari jalan hidupnya.
Silahkan dibaca...,
ada manfaatnya juga saya baca buku ini (yaeyalah membaca getoo). Saya jadi tau dan ngerti apa yang dimaksud dengan konspirasi.

Minggu, 24 Oktober 2010

Maryamah Karpov . Andrea Hirata



akhirnya selesai juga baca tuh buku, gak percuma pinjem buku dari pesisir ( perpustakaan rohis 31) ceritanya lumayan... pertama baca, dikirain judul ama isi buku gak nyambung, ternyata ada nyambung-nyambungnya juga.
mimpi-mimpi lintang adalah nama kapal yang dibuat oleh ikal dari hasil pengukuran kejeniusan temannya yaitu lintang, dalam buku ini diceritain tentang ikal yang mencari seseorang bernama A Ling , dia adalah cinta pertamanya , Ikal telah keliling dunia untuk mencarinya, sampai akhirnya dia tau bahwa A Ling tengah berada di Pulau Batuan, yang kata orang-orang jika kita mendatangi pulau itu maka sama saja kita menjemput ajal kita, namanya juga ikal , dia punya kemauan yang sangat keras , apalagi menyangkut orang yang sangat dicintainya yaitu A Ling.
Sebenarnya sebelum buku ke empatnya karangan Andrea Hirata ini ada 3 buku sebelumnya, yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, ama Endesor,, tapi saya malah langsung baca yang ke 4 nya, tapi ga apalah, tetep ngarti ko' jalan cerita sebelumnya.
Pokoknya baca aja dah bukunya, dijamin kaga rugi. hehehe... :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis