Pages

Search engine

Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 April 2012

Drama Bahasa Indonesia


Joko Seger dan Roro Anteng

Alkisah, terdapat seseorang raja Majapahit yang meninggalkan negerinya bersama permaisurinya dan beberapa pengikutnya karena kalah melawan putranya sendiri. Mereka pergi ke lereng Gunung Bromo dan membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka. Pada suatu hari, permaisuri melahirkan anak keduanya. Mantan Raja Majapahit yang gelisah menunggu istrinya melahirkan anaknya di luar rumah.Pada tengah malam,akhirnya anaknya berhasil dilahirkan. Anak yang dilahirkan itu perempuan. Sang Raja lalu melihat anaknya

Raja : “Dinda, anak kita perempuan”.

Tetapi, terdapat keanehan pada bayi itu karena bayi itu tidak menangis seperti bayi pada umumnya

Permaisuri : “Benarkah Adinda melahirkan, mengapa tidak ada suara tangisan bayi?” pikir sang permaisuri.

Raja : “Betul Adinda, anak kita telah lahir. Lihat, ia terlihat tenang, tidak menangis. Dia terlahir dengan normal dan sehat. Mukanya terlihat tampak bersinar. Karena ia terlihat tenang dan diam, maka aku akan menamakannya Roro Anteng” ucap Sang mantan Raja sembari menunjukkkan bayinya kepada istrinya.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri. Sang Suami merupakan seorang Brahmana. Pada saat yang bersamaan, sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras. Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras, maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar

Suami (Brahmana) : “Istriku,anak kita menangis dengan suara yang amat keras. Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger”.

Tahun telah berlalu. Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa. Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik, sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa. Karena kecantikkan Roro Anteng, banyak pemuda yang datang untuk meminangnya. Tapi, tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.
Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima. Mendengar kabar itu,ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya

Kyai Bima : “Hai Roro Anteng, apakah kamu mau menerima pinanganku?”

Roro Anteng dan keluarganya kebingungan. Bila tidak diterimanya, nanti dusun mereka akan dihancurkan olehnya beserta isinya. Joko Seger tidak bisa tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima. Roro Anteng pun berpikir keras

Roro Anteng : “Kalau aku tidak menerimanya, nanti Bima akan marah”. (berkata dalam hati)

Kyai Bima : ”Roro Anteng, jawablah pertanyaanku Roro!” ucap Kyai Bima.

Akhirnya, Roro Anteng mendapat ide. Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus, yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima. Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima.

Roro A : “Hai Bima, aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!”

Kyai Bima : ”Ha Ha Ha….Baiklah” ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.

Roro A : ”Hai Bima, aku menerimanya, Tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!”.

Kyai Bima : ”Apa syaratnya?” tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.

Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup, tetapi ia berusaha agar tampak tenang. Roro Anteng kemudian berkata

Roro Anteng : “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu, tetapi hanya dalam waktu semalam!” perintah Roro Anteng sambil menunjukkan tempat yang dimaksud.

Kyai Bima : “Ha Ha Ha…kalau itu maumu, aku akan melakukannya, itu sangat mudah bagiku!” jawab Kyai Bima dengan nada angkuh.

Roro A : ”Tetapi, Bima, kau harus bisa menyelesaikannya sampai waktu ayam berkokok!” ucap Roro Anteng.

Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu. Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar, Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah. Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau. Hanya beberapa kali kerukan, Kyai Bima berhasil membuat lubang besar. Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah. Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar

Roro A : “Aduh,bagaimana ini, raksasa itu benar-benar sakti? Pasti nanti pagi danau itu sudah selesai. Bagaimana caranya agar aku dapat mengalahkannya?”.

Setelah lama berpikir,  akhirnya ia menemukan ide.Ia membangunkan para penduduk desa,termasuk tetangga dan keluarganya. Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung, sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit

Roro A : “Wahai saudara-saudaraku, aku meminta kalian agar menciptakan suasana pagi. Hai kaum perempuan, aku perintahkan kau untuk menumbuk padi. Dan kau kaum laki-laki, aku perintahkan engkau untuk mengumpulkan jerami dan dibakar disebelah Timur agar terlihat seperti matahari terbit”.

Para Tetangga : ”Baiklah Roro Anteng, kami akan melakukannya”.

Lalu, kaum laki-laki dan perempuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Roro Anteng.
Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur, disusul dengan suara lesung yang bersahutan. Ayam pun terbangun dan berkokok. Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng

Kyai Bima : “Sial! pagi sudah tiba. Sementara pekerjaanku tidak selesai. Aku tidak bisa menikahi Roro Anteng” seru Kyai Bima dengan kesal.

Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu. Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah. Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok. Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.
Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang. Tak berapa lama kemudian,mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo. Mereka kemudian membuka desa baru. Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger. Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua, Roro An(teng) dan Joko Se(ger). Mereka pun hidup bahagia.

Setelah bertahun-tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak.Karena itu, terjadi keresahan di hati mereka berdua

Joko Seger : “Dinda, sebenarnya sudah bertahun-tahun kita menjadi suami istri, tetapi mengapa kita belum dikaruniai anak? Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat” ucap Joko Seger.

Roro A : ”Sabarlah Kanda, mungkin nanti kita akan dikaruniai anak. Janganlah cepat berputus asa. Serahkan saja semuanya kepada dewa” ucap istrinya untuk menenangkan hati suaminya.

Joko Seger pun bersumpah
Joko S : “Aku bersumpah, bila kita dikaruniai 25 orang anak, salah satu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo!”

Setelah suaminya berucap seperti itu, tiba-tiba muncul api dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo. Itu pertanda bahwa doa mereka didengar oleh Dewa. Mereka pun senang dan berterima kasih

Roro A & Joko S : “Terima Kasih Dewa, terima kasih karena engkau telah mendengarkan permintaan kami. Kami akan menepati janji kami”.

Tak berapa lama kemudian setelah itu, Roro Anteng diketahui mengandung. Mereka bertambah senang dan bahagia karena saat yang ditunggu-tunggu tiba.Sembilan bulan kemudian,Roro Anteng melahirkan seorang bayi kembar laki-laki.Ada yang kembar dua,tiga,hingga anak mereka menjadi 25.Kebahagiaan mereka bertambah.Setelah itu,Roro Anteng tidak melahirkan lagi.Mereka mengasuh dan mendidik ke 25 anak mereka dengan ikhlas.Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi dewasa.Nama anak yang paling bungsu adalah Jaya Kusuma.Karena terlena dalam kebahagiaan,Joko Seger menjadi lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo.

Pada suatu malam, ketika Joko Seger tidur, Dewa menegurnya agar menepati janjinya untuk mempersembahkan salah satu anaknya untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo melalui mimpi
Dewa : “Wahai Joko Seger tepatilah janjimu untuk mempersembahkan salahsatu anakmu untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo!”.

Joko Seger pun tersentak kaget dan terbangun.
Joko S : ”Aduh,bagaimana ini? Siapa diantara putra putriku yang harus aku persembahkan? Aku sangat menyayangi mereka semua”

Joko Seger yang masih dalam keadaan gelisah pun melanjutkan tidurnya
Pada Keesokan harinya, Saat pagi hari,Joko Seger bangun dari tidurnya.Joko Seger pun mulai gelisah karena ia belum menepati janjinya.Makin hari ia semakin gelisah karena belum menepati janjinya.Akhirnya ia ingin menceritakan semuanya kepada anak-anaknya

Joko Seger : “Apa aku harus membicarakan ini kepada anak-anakku?mudah-mudahan saja ada salahsatu dari mereka yang mau menjadi persembahan”.

Joko Seger dan isrinya kemudian mengumpulkan anak-anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga.Ia menjelaskan janjinya yang pernah ia ucapkan

Joko S : “Anak-anakku,Ayah sebenarnya mempunyai sebuah janji yang melibatkan kalian”.

Anak-anak : ”Janji apakah itu ayahku?” tanya anak-anaknya.

Joko S : ”Sebelum kalian lahir, Ayah dan Ibumu ini sudah lama tidak dikaruniai anak. Padahal Ayah dan Ibumu ini sudah banyak berdoa dan berusaha. Karena Ayah dan Ibumu ini tidak juga dikaruniai anak,maka Ayah mengucapkan sebuah janji yaitu bila Anak ayah ada 25, salah satu dari mereka harus ada yang dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo” jawab Joko Seger sambil menjelaskan.

Anak-anak : ”Lalu, apakah yang melibatkan kami Ayahku?” tanya anak-anaknya.”

Joko S : Apakah salahsatu dari kalian ada yang mau menjadi persembahan di kawah Gunung Bromo?” tanya Sang Ayah.

Anak : ”Ayahandaku, apakah ayahanda tega mengorbankan anak ayahanda sendiri, mengapa ayah berjanji seperti itu? Apakah ayahanda tidak sayang dengan kami?” tanya salahsatu anaknya.

Joko S : “Bukan begitu anakku,aku hanya ingin dikaruniai anak, sehingga ayahmu ini berjanji demi dikaruniai anak. Ayah itu sangat sayang dengan kalian semua, jadi ayah tidak tega untuk mempersembahkan salahsatu dari kamu semua menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo” ucap ayahnya kepada anak-anaknya.

Si sulung : ”Ampun Ayahanda,Ananda Pokoknya aku tidak mau menjadi persembahan di Gunung Bromo. Kami tidak ingin mati muda Ayahanda” ucap si Sulung.

Anak-anak : ”Iya,kami tidak mau mati dibakar oleh panasnya kawah Gunung Bromo!” ucap putra-putrinya, kecuali si Jaya Kusuma.

Joko S : “Dengarlah wahai putra-putriku, Jika Ayahanda tidak menunaikan nazar ini, maka desa ini dan seluruh isinya akan binasa,”

Dengan sigap, Jaya Kusuma langsung menanggapi penjelasan Ayahandanya.

Jaya Kusuma : ”Ayahanda, Ibunda, aku mau dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo ayahanda, demi ketenangan ayahanda. Ananda sangat menginginkan bahwa Ayahanda itu bahagia. Biarlah Ananda yang dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo” ucap si bungsu, Jaya Kusuma.
Mendengar perkataan Kusuma, semuanya menjadi sedih.

Joko S : ”Jaya Kusuma anakku,mengapa kamu berani untuk kami persembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo? Sedangkan kakak-kakakmu tak berani melakukannya” ucap Joko Seger.

Jaya Kusuma : ”Ananda akan melakukan apa saja, termasuk dikorbankan, demi keselamatan penduduk Tengger dan Ayahanda, Ibunda, serta kakak-kakakku. Sekarang, ijinkanlah aku pergi ke kawah Gunung Bromo” ucap Jaya Kusuma. 

Jaya Kesuma lalu berpamitan kepada kedua orangtuanya
Jaya Kusuma : “Ayahanda, Ibunda, Ananda akan pergi ke kawah Gunung Bromo. Ananda hanya meminta restu dan doa kalian. Kirimlah hasil ladang ke Ananda dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan, tanggal 14 bulan Kasadha. Ananda akan pergi ke kawah sekarang.”

Joko S : ”Tunggu Kusuma, kami akan ikut ke kawah dan mengajak semua penduduk mengantarmu ke kawah” ucap Joko Seger.

Joko Seger lalu memanggil seluruh penduduk Tengger. Setelah itu, Joko Seger, keluarga, dan para penduduk Tengger beserta Jaya Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo. Setelah sampai, Jaya Kesuma menyampaikan pesan kepada rakyat Tengger

Jaya Kusuma : “Aku akan menceburkan diri kedalam kawah demi ketentraman Rakyat Tengger disini. Kirimkanlah aku hasil ladang pada saat terang bulan, yaitu pada tanggal ke 14 bulan Kasadha.” ucap Jaya Kusuma.

Setelah berucap seperti itu, ia menceburkan diri kedalam kawah Gunung Bromo. Tak ada rasa takut yang muncul dari wajahnya.

Joko S : ”Jaya Kusuma…. Anakku” seru ayahnya dari atas kawah.

Untuk mengenang peristiwa itu,para rakyat Tengger melakukan perintah yang pernah diucapkan Jaya Kusuma saat akan menceburkan diri kedalam kawah,yaitu mengirimkan hasil ladang pada tanggal ke 14 bulan Kasadha dengan menceburkannya kedalam kawah tempat Kusuma menceburkan diri. Hal ini terus dilakukan sampai sekarang dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Tengger. Tradisi ini kemudian dinamakan Tradisi Kasadha.

Drama Bahasa Indonesia

Drama ini terdiri dari 5 orang tokoh yaitu
1. Vera
2. Rafa
3. Supri alias Steven
4. Gladis
5. Vanes
  ''Gembel Naik Kelas''

Vera, Vanes, Rafa dan Gladis sudah bersahabat sejak 12 tahun yang lalu. Mereka bertemu saat ditaman kanak-kanak dulu. Walaupun Vera dan Gladis berbeda sekolah tapi baik Vera maupun yang lainnya selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan berbagi cerita satu sama lain. Mereka juga memiliki keinginan untuk melakukan kencan bersama dengan pasangan mereka masing-masing. Meskipun keinginan mereka belum terwujud, karena sampai saat ini Vera belum memiliki paacar.
Rafa    : “Iya sayang, aku lagi ngumpul bareng yang lain. Ntar aku kabari lagi ya say.” (bertelepon)
Gladis  : “Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat. Kamu kemana si beb? Kalau ada waktu telepon balik ya!”
Vanes  : “Oke girls. Sekarang bukan waktunya telepon pacar, matiin teleponnya please.”
Rafa    : “Iya-iya bawel” (tertawa)
Gladis  : “Tau nih Vanes sensi banget. Vera yang jomblo aja, biasa aja tuh.” (melirik Vera)
Vanes  : “Makanya, kita harus jaga perasaan Vera juga kan?”
Rafa    : “Bukannya Vera udah jadian?”
Gladis : “Apa Vera udah punya pacar?”
Rafa    : “Iya kan Ver? Teman aku ngeliat kamu jalan sama cowok.”
Vanes  : “Kok nggak cerita-cerita sih?”
Vera    : “Itu…..” (tampak bingung)
Gladis  : “Jahat deh. Masa orang lain duluan yang tau. Kenalin ke kita dong.”
Vanes  : “Iya nih, masa kita nggak ditraktir.”
Rafa    : “Jadi kapan nih kita dikenalin?”
Vera    : “Ehm.. dia nggak bisa ketemu kalian guys.”
Vanes  : “Lah kok gitu?”
Gladis  : “Dia udah kuliah?”
Vera    : “Iya gitu deh.”
Vanes  : “Pacar aku juga udah kuliah, lagian 2 minggu lagi juga dia udah libur.”
Rafa    : “Oh bagus tuh. Jadi 2 minggu lagi kita bisa ketemu sama pacar kamu.”
Vera    : “Aku usahain ya guys.”
Gladis  : “Selamat ya!”

            Vera terpaksa berbohong pada teman-temannya. Sebenarnya, pria yang dilihat teman Rafa tempo hari adalah sepupunya yang tinggal di Manado yang sedang berlibur waktu itu. Vera pun tidak bisa meminta tolong temannya yang lain untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Karena, Gladis dan yang lainnya juga mengenal teman-teman Vera. Vera terus berpikir mencari jalan keluar.

Vera    : “Aduh, harus gimana nih?. Kalau sama Raka pasti Rafa tau. Sama Wira pasti pacarnya Gladis kasih tau dia, ketauan bohongnya deh. Sama Leo pasti langsung ketauan, mulutnya kan ember. Sama siapa yah??” (sambil berjalan mondar-mandir)
Supri    : “Misi mbak, botol minumya masih dipake?”
Vera    : “Nggak kok, itu bukan punya saya mas.”
(pemulung itu memungut botol, sesudah itu menghitung jumlah botol bekas)
Supri    : “Nunggu angkot mbak?”
Vera    : “Iya.” (melihat pemulung)
Supri    : “Lama toh mbak, jarang angkot lewat sini.”
Vera    : “Oh gitu.” (mencoba menjauh)
Supri    : “Dari jalan sana itu loh mbak baru banyak angkot.” (menunjuk jalan yang dimaksud)
Vera    : “Aduh bawel banget sih mas, terserah saya dong.” (berjalan pergi)
Supri    : “Yah kan saya cuma mau bantuin mbak aja.”
(Vera yang mendengar ucapan pemulung itu, langsung menghampirinya)
Vera    : “Serius mas mau bantuin?”
Supri    : “Iya mbak, disitu emang banyak angkot.”
Vera    : “Bukan angkot mas, Mas serius mau bantuin saya?”
Supri    : “Bantu apa mbak?”
Vera    : “Gini aja, besok saya ke sini lagi. Mas datang aja, saya ada kerjaan buat mas.”
Supri    : “Kerja? Serius mbak? Kerja apa?”
Vera    : “Saya kasih tau mas besok, pokoknya mas dateng aja besok. Yaudah daya pergi dulu, jangan lupa besok mas.” (berlari pergi)
Supri    : “Makasih ya mbak.”

            Vera telah menyusun sebuah rencana dengan bantuan dari seorang pemulung yang dilihatnnya kemarin sore. Tentunya rencana Vera ini tidak diketahui oleh siapapun termasuk kepada 3 sahabat terbaiknya.

Supri    : “Jadi, saya harus mulai kerja kapan mbak?”
Vera    : “Masih 2 minggu lagi sih, tapi selama 2 minggu ini saya bakal ngerubah gaya kamu yang norak ini.”
Supri    : “Norak? Saya ini paling gaul loh mbak di kampung saya.”
Vera    : “Nah itu masalahnya. Oke, mulai sekarang jangan pernah panggil saya mbak. Panggil saya Vera, beb atau sayang. Ngerti?”
Supri    : “Oalah kaya di kampung saya aja mbak, beby-beby sama pacarnya.
Vera    : “Yaudah cukup Vera aja. Dan sekarang nama kamu Steven bukan Supri lagi.”
Supri    : “Stepen mbak? Kok kaya orang yang di Tipi-Tipi itu loh. Namanya Stepen juga.”
Vera    : “Steven bukan Stepen. Udah ganti baju dulu sana, pakai yang ini.” (memberikan baju)
Supri    : “Baju saya kenapa mbak? Baru saya pakai 2 hari kok, masih bersih mbak.”
Vera    : “Aduh jorok banget sih, udah buru ganti sana bawel.” (mendorong Supri)

            Di lain tempat, Rafa dan lainnya sedang berkumpul bersama. Mereka menghabiskan akhir minggu ini dengan menginap di rumah Vanes. Tapi sejak sore mereka berkumpul Vera belum juga datang.

Rafa    : “Masih nggak diangkat sama Vera teleponnya?”
Vanes  : “Tau nih, nggak diangkat-angkat. Sms juga nggak dibales.”
Gladis  : “Kalian ini norak banget deh, namanya juga baru jadian. Pasti Vera sama pacarnya lagi jalan.”
Vanes  : “Tapi kan Vera bisa ngabarin ke kita juga kan.”
Rafa    : “Yaudah lah, toh sekarang kita tau kan Vera sama siapa.”
Gladis  : “Oke kita bahas yang lain aja. Terus ne kapan ni kita hunting baju lagi?”
Vanes  : “Minggu depan aja ya dis. Aku ada ujian mat rabu besok, oke say?”
Gladis  : “Iya-iya. Eh Vera.”
Vera    : “Sorry ya, tadi ada urusan sebentar jadi baru bisa datang sekarang.”
Rafa    : “Kita ngerti kok. Pasti abis jalan sama pacar kamu ya?”
Vera    : “Ih kok tau sih?”
Gladis  : “Terus kapan ni kita dikenalin Ve?”
Vera    : “Sabar dong guys, dia kan masih kuliah. Kalau dia udah libur pasti aku kenalin ke kalian deh.”
Vanes  : “Janji ya?”
Vera    : “Iya bawel. Terus kapan ni kita jalan lagi?”
Rafa    : “Ayo-ayo kapan nih? Udah kangen kalian hahaha.”
(mereka saling berpelukan)

            Vera merasa bersalah telah berbohong kepada temannya, tapi Vera juga tidak mau melihat temannya menjadi sedih. Vera dan Supri sibuk mencari beberapa baju, sepatu dan aksesoris khusus pria.

Supri    : “Nggak kebanyakan ini mbak?”
Vera    : “Ini malah kurang tau. Udah deh kamu turutin aja apa kata saya.”
Supri    : “Iya mbak.”
Vera    : “Nggak pake mbak-mbakan panggil saya Vera.”
Supri    : “Iya mbak eh maksud saya Pera.”
Vera    : “Vera bukan Pera, udah ayo jalan.”

Supri    : “Ini apa lagi mbak?”
Vera    : “Ini salon. Baca dong S.A.L.O.N. udah ayo masuk.”
Supri    : “Saya mau diapain mbak?”
Vera    : “Ya mau dibuat gantenglah.”
Supri    : “Saya kurang ganteng apalagi coba mbak.”
Vera    : “Udah buru masuk!”
Supri    : “Iya mbak.”
(tanpa diduga Rafa juga datang ke salon tersebut)
Rafa    : “Vera? Kok kamu di sini, sama siapa? Sendiri?”
Vera    : “Aduh fa, nggak usah kaget gitu dong, wajarkan cewek ke salon.”
Rafa    : “Iya sih tapikan kami baru jadian, biasanya orang yang baru pacaran pasti bareng pacarnya terus. Aaa… jangan-jangan kamu lagi sama pacar kamu itu ya?”
Vera    : “Enggak ko, aku sendiri. Duluan ya” (berlari pergi)
Rafa    : “Lah? Vera… ko aneh banget sih dia.”

            Rafa mulai merasakan sikap aneh Vera akhir-akhir ini. Vera jarang berkumpul bersama yang lainnya, dan jika dia ikut, Vera selalu datang terlambat.

Vanes : “Iya juga sih tapi wajarlah, dia kan baru pertama kali pacaran.”
Gladis  : “Kamu cemburu ya. Vera akhirnya punya pacar?”
Rafa    : “Nggaklah justru aku ikut bahagia Vera akhirnya punya pacar.”
Gladis  : “Lagipula sabtu ini kita juga bakal dikenalin kok sama Steven.”
Vanes  : “Steven? Siapa tuh?”
Gladis : “Pacarnya Vera.”
Rafa    : “Kok kamu tahu? Aku sama Vanes aja nggak tau.”
Gladis  : “Dia udah cerita 2 hari yang lalu, aku lupa kasih tau kalian.”
Vanes  : “Tapi kamu udah liat orangnya?”
Gladis  : “Belum kok. Dia bakal kenalin ke kita bareng-bareng.”
Rafa    : “Kaya apa yah cowoknya Vera?”
Vanes  : “Manusialah bu.”
Rafa    : “Yaiyalah, maksudnya itu tampangnya kaya gimana?”
Gladis  : “Seleranya Vera kan tinggi. Pasti cakeplah orangnya.”
Vanes  : “Iya ya, cowok-cowok yang nembak dia pasti ditolak.”
Gladis  : “Udah  gitu dia terlalu jutek sih.”
Rafa    : “Aduh kok jadi ngomongin yang aneh-aneh sih.”
Gladis  : “Hehe.., Gimana kabar Rio, fa?”
Rafa    : “Bisa aja yah ngelesnya.”
Gladis  : “Hehehe…”

            Vera sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan terencana dan dengan penuh kehati-hatian Vera tidak ingin rencananya ini gagal, Supri pun telah berubah. Hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu, Supri kini berubah dari seorang pemulung menjadi seorang yang kaya raya.

Vera    : “Inget, namanya Steven Dalvino. Kuliah di Jerman, semester 4. Kita ketemu waktu liburan tahun lalu di Bali. Oke kita mulai.”
(Vera dan Supri masuk)
Rafa    : “Vera..!” (melambaikan tangan)
Vera    : “Hai semua, kenalin ini Steven dan Steven ini Rafa, Gladis dan Vanes.”
Supri    : “Stepen Dalpino. Kuliah di Jerman, semester 4. Kita….”
Vera    : “Nggak usah gugup gitu dong sayang.”
Gladis  : “Apa? Stepen? Kata Vera namanyaa Steven.”
Vera    : “Aduh sorry guys. Steven in biasa pake bahasa Jepang juga jadi logat Jepangnya masih ada.”
Rafa    : “Oh gitu, duduk dulu yuk.”
Vanes  : “Jadi hari ini, kita bakal ditraktir sama Steven dong?”
Supri    : “Apa? Traktir? Saya nggak…”
Vera    : “Dia nggak keberatan kok. Iya kan sayang?”
Supri    : “Iya beb.”
Gladis  : “Logat Jepangnya lucu banget.”
Rafa    : “Tapi agak mirip Jawa ya?”
Vanes  : “Iya, Orang Jawa juga ya?”
Vera    : “Biasa guys, keturunan keraton. Steven ini keterununan ke 4, dari keraton Cirebon.”
Rafa    : “Oh gitu. Aneh ya, orang Sunda tapi kaya Jawa.”
Vera    : “Mamanya Steven orang Jogja guys.”
Vanes  : “Udahlah nggak usah dibahas, jadi nggak enak sama Stevennya kan.”
Vera    : “Tau ni Rafa, rese banget.”

            Vera dan yang lainnya pun makan bersama, setelah pesanan mereka telah siap. Beberapa kali Rafa dan Vanes mencuri pandang satu sama lain. Mereka mulai curiga akan sikap Vera yang tidak biasa.

Vera    : “Jadi berapa semuanya?”
Rafa    : “375 ribu Ve.”
Supri    : “Apa?” (kaget)
Vera    : “Ya ampun beb, jangan norak gitu deh.”
Vanes  : “Kemahalan ya?”
Vera    : “Bukan kok, Steven biasa makan sampai berapa juta. Jadi dia kaget deh ternyata di sini murah banget. Iya kan sayang?”
Supri    : “Iya beb.”
Vanes  : “Jadi, kalian dulu kenal di mana? Kita nggak pernah denger tentang kamu sebelumnya.”
Supri    : “Waktu liburan tahun lalu di Bali.”
Gladis  : “Terus kalian baru deket lagi? Terus jadian?”
Supri    : “Kita ketemu di pameran buku 3 bulan yang lalu, semenjak itu kita jadi deket lagi. Iya kan sayang?”
Vera    : “Apa? Oh iya-iya, kita ketemu di pameran buku.”
Rafa    : “Terus kamu ngambil jurusan apa di Jerman?”
Supri    : “Saya ngambil jurusan bisnis manajemen.”
Rafa    : “Keren banget. Kok mau sih sama Vera?”
Vera    : “Jahat deh kalian?”
Gladis  : “Nggak lah. Justru kita seneng banget kamu dapet yang terbaik.”
Vera    : “Makasih ya guys.”

            Setelah pertemuan tersebut hubungan Vera dan teman-temannya kembali seperti dulu. Vera juga sudah putus hubungan dengan Steven alias Supri setelah membayarnya. Sore itu Rafa pergi melakukan bakti sosial di wilayah penduduk yang kurang mampu.

Rafa    : “Iya ma, aku udah selesai baksosnya. Tinggal beresin sampah-sampah yang harus di buang.  Itu kan Steven? Oh nggak mah tadi aku lihat ada yang mirip sama temanku. Iya ma, aku nggak akan pulang malam.”
(di rumah Rafa)
Gladis  : “Kamu nggak salah lihat kan fa?”
Rafa    : “Mirip kok. Cuma bedanya yang ini lebih dekil aja.”
Gladis  : “Terus kamu samperin orang itu buat mastiin nggak?”
Rafa    : “Nggak sempet dis, aku cuma papasan jadi nggak terlalu jelas juga lihatnya.”
Gladis  : “Cuma mirip doang berarti. Lagian Steven kan udah balik ke Jerman, masa tiba-tiba ada.”
Rafa    : “Ya siapa tau aja Vera bohong sama kita. Diantara kita juga nggak ada yang tau sebelumnya tentang Steven kan?”
Gladis  : “Terus gimana bilangnya? Kita ketemu sama Vera buat dia ngomong jujur sama kita?
Rafa    : “Ya mungkin itu yang terbaik.”
Gladis  : “Kita pastiin dulu. Mungkin aja kamu salah lihat. Dan masalah ini bisa ngebuat persahabatan kita hancur.
Rafa    : “Oke besok kita ajak Vanes juga buat mastiin hal ini.”
Gladis  : “Oke, tapi masalah in jangan sampai ketahuan sama Vera. Janji?
Rafa    : “Janji dis.”

            Keesokan harinya Rafa menceritakan kejadian tersebut pada Vanes di sekolah. Vanes yang mendengar hal itu pun merasa kesal dan marah pada Vera. Mereka bertiga sudah sepakat akan pergi ke tempat Rafa melihat seseorang yang mirip dengan Steven.

Vanes  : “Kamu yakin fa di sini tempatnya?”
Rafa    : “Iya bener, aku lihar dia disekitar sini kok. Eh eh.. itu tuh Steven.”
(Supri yang melihat teman-teman Vera segera berlari)
Gladis  : “Ayo buru kejar!!” (Supri tertangkap)
Rafa    : “Kenapa kabur Steven?”
Supri    : “Ampun mbak eh, saya bukan Steven.”
Gladis : “Jangan bohong. Kamu Steven pacarnya Vera kan?”
Supri    : “Saya Supri mbak bukan Stepen.”
Rafa    : “Tuh denger logatnya sama kan?”
Vanes  : “Udah jujur aja deh, atau kita laporin ke kantor polisi.”
Supri    : “Jangan mbak eh, saya cuma disuruh mbak Pera buat pura-pura jadi pacarnya loh mbak.”
Gladis  : “Jangan bohong ya?”
Supri    : “Sumpah aku mbak.”
Rafa    : “Gimana nih?”
Vanes  : “Lepasin aja, toh dia kan cuma disuruh sama Vera.”
Gladis  : “Udah pergi sana.”
Supri    : “Makasih ya mbak.”

            Rafa dan yang lainnya sepakat untuk merahasiakan hal tersebut dari Vera. Mereka berencana menanyakan hal tersebut langsung kepada Vera saat mereka akan menginap di rumah Rafa. Vera sendiri tidak merasakan curiga akan sikap teman-temannya.

Gladis  : “Oke kita mulai aja sekarang.”
Vera    : “Mulai apa guys?”
Vanes  : “Kita mau kamu jujur Vera.”
Vera    : “Jujur? Masalah apa?”
Rafa    : “Siapa sebenarnya Steven itu?”
Vera    : “Maksudnya? Aku nggak ngerti.”
Gladis  : “Kita udah tau semua Ver, dan kamu udah nggak bisa bohongin kita lgi. Steven itu Supri kan?”
Vera    : “Aku…. Aku…”
Rafa    : “Jujur kenapa sih Ve! Kamu tau nggak, kamu tuh udah ngerusak persahabatan kita.”
Gladis : “Ngomong aja yang sebenarnya.”
Vera    : “Iya bener. Steven itu Supri, dia cuma seorang pemulung. Puas kalian?”
Vanes  : “Kamu kok jahat banget sih Ve? Kita in sahabat kamu seharusnya kamu tuh jujur sama kita.”
Vera    : “Aku cuma nggak mau dipaksa terus sama kalian.”
Gladis  : “Emang kita paksa apa?”
Vera    : “Waktu Reo, Wira sama David aku tolak, kamu langsung musuhin aku kan dis? Kamu diemin aku karena udah nolak temen-temen kamu. Kamu juga bete kan fa waktu mantan kamu lebih milih aku dan kamu langsung nyuruh aku cepet-cepet pacaran. Kalian ngelakuin ini karena takut aku ngerebut pacar kalian kan? Kalian nggak tulus buat bantuin aku.”
Vanes  : “Kita ngerti kok Ver, kita udah salah dan berbuat jahat secara nggak langsung ke kamu. Tapi kita beneran sayang kok sama kamu.”
Rafa    : “Maaf Ver, kalau sikap cemburu aku buat kamu terbebani.”
Gladis  : “Kita minta maaf dan nggak akan maksa kamu buat pacaran lagi kok.”
Vera    : “Makasih guys.” (berpelukan)

            Masalah pun terselesaikan, Vera dan teman-temannya kini telah kembali seperti dulu. Mereka tidak memaksa Vera untuk segera punya pacar, karena cinta akan datang disaat yang tak terduga.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis